Selasa, 12 Mei 2020

Merancang Pembelajaran Jarak Jauh Saat Pandemi Berlangsung


Oleh : Muhamad Anantiyo Widodo / Pendiri Sanggar Belajar Sregep Sinau

Sudah satu setengah bulan siswa melaksanakan pembelajaran jarak jauh dikarenakan pandemi Covid 19. Bermacam metode dilakukan oleh setiap sekolah untuk memberikan layanan pendidikan bagi siswanya yang berada di rumah.

Berbagai kendala atas pembelajaran jarak jauh pun bermunculan. Terbatasnya kuota internet hingga signal dan fasilitas smartphone yang harus bergantian antara anak dan orangtua menjadikan pembelajaran jarak jauh tidak semudah rencana yang telah disusun oleh sekolah.

Merujuk pada surat edaran Menteri Pendidikan, kegiatan pembelajaran di rumah seharusnya lebih fokus pada peningkatan kemampuan kecakapan hidup (lifeskill) sesuai minat masing masing siswa. Itupun harus disesuaikan dengan kondisi yang dialami oleh siswa dan keluarganya. Sehingga diharapkan tidak ada beban berlebih yang dialami oleh siswa atau orangtua yang mendampingi belajar.

Maka para guru memang kemudian dituntut untuk memberikan materi penugasan yang menarik juga variatif agar tidak menyebabkan kebosanan. Tugas membuat karya menggunakan barang bekas atau tugas memasak merupakan contoh penugasan yang bisa dilakukan. Syaratnya adalah bebas menggunakan bahan apapun yang tersedia di rumah dan boleh dikerjakan bersama anggota keluarga lainnya.

Pembelajaran di rumah sebetulnya momentum yang tepat untuk membangun kepedulian siswa terhadap lingkungan sekitar. Maka tugas yang diberikan perlu diarahkan kepada pembentukan karakter peduli lingkungan. Saat mereka diminta membuat karya dari barang bekas, sebetulnya mereka sedang dilatih untuk bisa memanfaatkan setiap barang yang nampak tidak berguna menjadi barang bernilai. Ketika siswa diberikan tugas untuk wawancara dengan orangtua, adik, kakak atau anggota keluarga lainnya, mereka sedang dilatih untuk dapat berkomunikasi dengan baik kepada keluarganya sehingga hubungan yang terjalin lebih dekat dan harmonis. Tujuan semacam ini perlu dipastikan tercapai pada program pembelajaran di rumah.

Kemudian guru juga diharapkan dapat menggunakan berbagai aplikasi pembelajaran berbasis online. Penerapan aplikasi tersebut tentunya perlu disesuaikan dengan kondisi umum siswa. Aplikasi yang biasa digunakan oleh siswa dalam kesehariaanya seperti Youtube, Facebook atau Whatsapp bisa disulap menjadi sarana untuk pembelajaran. Apalagi kemungkinan sebagian besar siswa setiap hari menggunakannya. Aplikasi ini bisa dipadukan dengan google form, google clas room atau aplikasi lain yang tersedia.

Whatsapp barangkali menjadi aplikasi yang akan paling sering digunakan karena sudah menjadi sarana keseharian untuk berkomunikasi, termasuk komunikasi antara guru dengan siswa atau guru dengan orangtua siswa. Dalam memanfaatkan Whatsapp perlu disepakati waktu antara guru dengan siswa (orangtua). Kesepakatan itu meliputi jam pemberian tugas, tenggat waktu penugasan hingga konsultasi pembelajaran. Fleksibilitas pengumpulan tugas harus diatur sesuai kondisi masing-masing siswa.

Permasalahan yang muncul seperti terbatasnya kuota internet atau penggunaan smartphone bergantian perlu disikapi secara bijak. Barangkali perlu dibuatkan kesepakatan khusus tentang batas waktu menyesuaikan dengan permasalahan yang muncul. Batas waktu ini bisa dibuat secara umum atau khusus dengan siswa tertentu. Pentingnya kesepakatan pemberian batas waktu adalah agar kedisiplinan dan tanggungjawab siswa tetap terjaga.

Setiap kelas hendaknya memang punya informasi yang jelas mengenai kemampuan masing-masing siswa untuk menggunakan sarana internet dalam pembelajaran. Sehingga model yang dipakai sesuai dengan kondisi umum yang terjadi di kelasnya. Misalnya jika ternyata diketahui mayoritas siswa setiap hari memakai Facebook alangkah baiknya jika dibuatkan grup Facebook beranggotakan seluruh siswa. Sehingga aktifitas online yang dilakukan tidak terasa memberatkan karena sudah terbiasa. Demikian pula untuk penggunaan Youtube. Apalagi beberapa penyedia layanan selluler memberikan kuota unlimited khusus aplikasi tertentu. Hal ini tentunya juga akan lebih meringankan orangtua siswa.

Lalu bagaimana dengan siswa yang sama sekali tidak sanggup mengikuti pembelajaran online, misalnya karena faktor ekonomi. Siswa dengan kondisi ini perlu dibuatkan daftar tugas yang harus dikerjakan dalam batas periode tertentu. Tentunya tugas yang diberikan tidak boleh memberatkan dan bisa dilaksanakan oleh siswa bersangkutan. Kesepakatan dengan orangtua mutlak harus dilakukan.

 


Tags :

bm

anantiyo

Pencari Inspirasi

Hikmah atau inspirasi adalah kekayaan yang menghidupkan akal, memperkuat insting kebijakan, dan mengkaryakan bakat .

  • anantiyo
  • M Anantiyo Widodo
  • anantiyo_widodo
  • anantiyo.widodo@gmail.com
  • Anantiyo Widodo

Posting Komentar